Showing posts with label BBPI semarang. Show all posts
Showing posts with label BBPI semarang. Show all posts

Monday, June 27, 2016

DIKLAT APRESIASI KEHUMASAN


( Bandung, 28/05/2016) Hubungan masyarakat ( HUMAS ) merupakan fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik antara organisasi dengan organisasi lainnya maupun organisasi dengan public. Salah satu tanggung jawab humas pemerintah yaitu memberikan informasi, motivasi, menjalankan komunikasi yang efektif serta membuat citra yang positif bagi organisasi pemerintah atau instansi.
Begitu pentingnya peranan Humas maka Direktorat jendral perikanan tangkap melalui bagian hokum, Organisasi dan Humas mengundang seluruh UPT Perikanan Tangkap termasuk BBPI Semarang untuk mengikuti kegiatan apresiasi kehumasan yang di laksanakan di Hotel Tjokro, Chiampelas 211- 217, Bandung. Kegiatan berlangsung selama 3 hari dari tanggal 25 s/d 27 Mei 2016. Peserta yang dari BBPI Semarang diwakili oleh Zahruddin dan heni. Adapun tema yang diusung pada apresiasi ini adalah Strategi humas pemerintah dalam mendukung keberlanjutan usaha perikanan tangkap di era digital.
Tema ini sesuai dengan kondisi yang ada di masyarakat dimana masyarakat tengah menghadapi persoalan yang mendasar seperti kebijaka kebijakan kementrian kelautan dan perikanan  yang mengakibatkan banyak nelayan yang belum mengerti dan mengetahui tentang persoalan seperti Berbagai pelarangan alat tangkap dan pelarangan penangkapan berbagai komoditas perikanan yang dilindungi. Disinilah peranan humas akan diperlukan. Maka dari itu sumber daya manusia kehumasan harus semakin bertambah wawasan dan pengetahuan agar dapat tampil maksimal dan semakin propesional.
Materi yang disampaikan dalam kegiatan apresiasi kehumasan ini diantaranya ;
-          Aspek pengembangan wawasan.Modul pembelajaran Program dan kebijakan DJPT dalam pengelolaan informasi public di era digital.
-          Aspek pengetahuan tentang kehumasan. Modul pembelajaran Teknik Strategi humas pemerintah dalam menghadapi informasi di era digital
-          Aspek teknologi. Modul pembelajaran optimalisasi media digital dalam penyebaran informasi dan teknik menulis di media sosial ( Sosmed )
-          Aspek Fotografi. Modul pembelajaran teknik menghadirkan foto berkualitas.
Sedangkan metode yang digunakan dalam pelatihan adalah pemaparan makalah, presentasi dan diskusi. Dan sebagai Nara sumber berasal dari lembaga pers yaitu Dr. Soetomo.  Diharapkan agar kegiatan ini yang dilakukan oleh Humas BBPI semarang  bisa di tularkan kepada rekan – rekan agar citra BBPI Semarang menghadapi era digitalisasi bisa beradaptasi dengan teknologi, Dan Untuk Humas BBPI Semarang bisa menjadi ujung tombak dalam penyampaian informasi baik inovasi ataupun kegiatan yang ada di BBPI Semarang.

Thursday, June 23, 2016

Pameran di Bali tuna conference

Pada tahun 2016 tepatnya pada tanggal 19 – 20 Mei kembali Bali di tunjuk sebagai tuan rumah konferensi tuna. Pertemuan ini menjadi pertemuan yang kedua setelah yang pertama pada tahun 2014. Tujuan dari kegiatan ini adalah:     (i) untuk membangun sebuah platform untuk mempertemukan para pemangku kepentingan dalam komunitas tuna untuk memperkenalkan “Rencana Aksi Tuna Nasional” yang akan menjadi dokumen pedoman pengelolaan tuna yang berkelanjutan; dan (ii) mempromosikan upaya yang telah ditempuh Indonesia dalam mempertahankan sumber daya tuna secara global.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia bekerjasama dengan International Pole & Line Foundationakan menyelenggarakan the 2ndBali Tuna Conference yang dilanjutkan dengan pertemuan 5th International Coastal Tuna Business Forum. Gabungan dari kedua forum ini dalam sebuah satu kegiatan di tahun 2016, diyakini akan membawa pemerintah, kalangan industri perikanan, dan ilmuwan beketja bersama-sama untuk memastikan pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan, ditunjau dari aspek ekologis, sosial dan pembangunan ekonomi masyarakat.
Pada kesempatan pameran ini BBPI Semarang mengirimkankan 4 pegawai untuk ikut serta didalam pameran dengan membuka Stand BBPI Semarang.Tujuan dan Sasaran dari keikut sertaan berpartisipasi diPameran “Bali Tuna Conference” danInternational Coastal Tuna Forum Bisnis 2016oleh BBPI adalah tersosialisasinya informasi mengenai perikanan tangkap dan hasil kegiatan BBPI melalui berbagai media publikasi. Pada Kegiatan pameran ini BBPI menampilkan 4 materi utama, yaitu Jaket Tuna, Kapal laganbar, TEC (Thermal Electric Cooler) dan Palka Berinsulasi untuk Tuna Loin. Serta didukung dengan materi berupa buku hasil rekayasa BBPI, film dokumenter sarana penangkapan ikan, poster, liflet.
Tema BBPI di Pameran tersebut adalah Penangkapan Tuna yang ramah Lingkungan dan Bertanggung jawab. Tema tersebut sangat sesuai dengan acara Bali tuna conference.



Sebagai salah satu negara produsen tuna terbesar di dunia , Indonesia menghasilkan lebih dari 16 % dari hasil tangkapan tuna ke pasar global. Hasil tangkapan tuna juga telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi perikanan nasional Indonesia secara keseluruhan, dengan total produksi rata-rata mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun. Menyadari tanggung jawab yang melingkupi hasil tangkapan tersebut, Indonesia berkomitmen untuk mendukung untuk pengelolaan perikanan tuna yang berkelanjutan secara global. Indonesia merupakan anggota penuh dari 3 (tiga)Organisasi Pengelolaan Perikanan Regional/Regional Fisheries Management Organisation ( RFMOs ), yaitu Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC) dan Commmission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) . Sebagai bagiandari kewajiban Indonesia, Pemerintah telah menetapkan dokumen panduan untuk membantu para pemangku kepentingan perikanan tuna Indonesia memenuhi persyaratan dan mematuhi langkah-langkah resolusi, konservasi dan pengelolaan RFMO. Para pemangku kepentingan perikanan tuna Indonesia memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga pemanfaatan perikanan tuna yang berkelanjutan pada tingkat regional.

Wednesday, June 15, 2016

Ribuan Nelayan padang turun ke jalan

PADANG- Hampir seribuan nelayan kapal bagan di Sumatera Barat hari ini (Rabu, 15/6) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Nelayan menuntut ketegasan spesifikasi kapal tangkap dan tidak memasukkan kapal bagan sebagai kapal tangkap modern bertonase besar.
Aksi unjuk rasa ribuan nelayan tersebut dilangsungkan di kantor gubernur Sumatera Barat di jalan Sudirman dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Jalan Khatib Sulaiman. Para nelayan meneriakkan tuntutan agar pengurusan izin operasi kapal bagan cukup dilakukan di provinsi. Nelayan ini datang dari seluruh daerah perairan Sumatera Barat mulai dari Pesisir Selatan sampai Kabupaten Pasaman Barat.
“Kapal bagan dari dulu sudah merupakan alat tangkap tradisional, jangan disamakan dengan kapal ikan asing yang memiliki peralatan tangkap canggih,” teriak Suar, seorang nelayan.
Dengan membawa spanduk bertuliskan tuntutan-tuntutan kepada Menteri KKP Susi Pudjiastuti, para nelayan bertahan di gedung DPRD Sumatera Barat meneriakkan perjuangan terhadap nasib puluhan ribu orang yang bergantung hidup sebagai nelayan kapal bagan di Sumatera Barat.
Disamping tuntutan tersebut, nelayan juga meminta kepada Pemerintah dan DPRD untuk mendesak pihak berwajib melepaskan rekan mereka yang saat ini ditahan bersama kapal bagannya karena telah nekad melaut.
“Kami sudah satu minggu tidak bisa turun ke laut karena takut ditangkap petugas. Ada kapal bagan yang ditangkap bersama para nelayan, kami minta Gubernur dan DPRD mendesak petugas yang telah menangkap mereka untuk melepaskannya,” ujarn Jo Lelo, nelayan lainnya.
Wardi, mewakili para nelayan kapal bagan berharap, para nelayan bisa kembali melaut untuk menghidupi keluarga mereka. Dia menyebut, satu kapal bagan berawakkan antara 17 sampai 20 orang nelayan. Untuk itu, dia menyampaikan kepada pemerintah dan DPRD soal jaminan hukum.
Asal muasal tidak dikeluarkan ijin karena alat tangkap bagan yang di gunakan di padang tidak sesuai dengan permen 02 2015. Intinya selama ini dkp sumbar dlm menerbitkan izin tdk mengacu ke peraturan dan perundangan yg berlaku, sekarang timbul masalah (dng adanya penertiban ukuran kpl dan penatalaksanaan perizinan) dari pihak dkp mau cuci piring, sdh jelas2 dlm permen 2/2010 jo permen 42/2014 disebutkan bhw alat tangkap bagan DIBOLEHKAN  beroperasi di wilayah kurang dari12 mil dng kpl ukuran  kurang 30 GT. lalu kenapa pemerintah provinsi mengeluarkan izin bagan dengan kapal ukuran lebih dari 30 gt, sehingga hal tersebut mempengaruhi pola operasi nelayan yang harusnya di wilayah kurang 12 mil dengan target spesies ikan teri,
sekarang karena ukuran kapal nya lebih 30 gt, nelayan operasi di wilayah 12 mil dengan target spesies ikan2 pelagis besar.  kalau dari awal ada kontrol dalam penerbitan izin daerah maka tidak akan terjadi seperti ini. sebetulnya sudah ada solusi yang ditawarkan agar mereka berganti alat tangkap, tapi mereka tidak bersedia karena khawatir hasil tangkapannya tidak seperti yang nelayan harapkan, selain itu memang berganti alat tangkap tidak semudah membalikkan tangan, karena perlu biaya.
Dan selain itu dari masalah teknis. Nelayan juga harus diberikan ketrampilan untuk bisa beradaptasi dengan alat tangkap yang baru.

Tuesday, June 14, 2016

Nelayan Cirebon tolak bantuan kapal

Program bantuan kapal untuk nelayan kecil di indonesia adalah salah satu program kkp untuk mempersiapkan sarana penangkapan ikan yang bisa lebih meningkatkan pendapatan ekonomi nelayan. Selain kapal, bantuan yang lainnya adalah alat tangkap nya juga akan sepaket dengan kapal.
Rencana pemberian yang belum terealisasi sudah mendapatkan penolakan tersendiri dari nelayan kabupaten cirebon.
Menurut salah satu nelayan mengatakan bahwa kapal bantuan yang akan di berikan oleh kementrian kelautan dan perikanan harus di kaji ulang. Pengkajian tersebut karena alasan bahan utama pembuatan kapal tersebut adalah fiber. Dan menurut nelayan baham fiber tidak sesuai dengan kontur perairan pantura yang berpasir dan berlumpur. Bahkan alasan nelayan ini di amini juga oleh pegawai dinas perikanan dan kelautan perikanan kabupaten cirebon.
Ada yang keliru dengan pemahaman bahwa kapal fiber tidak sesuai dengan pantura dan kapal fiber bila bocor cuma bisa dipakai sekali saja berbeda dengan kayu kalau rusak bisa di tambal.
Perlu di ketahui bahwa bahan fiber sangat cocok di daerah lumpur dan berpasir karena resiko akan kebocoran bisa lebih kecil dan untuk masalah pemakaian yang sekali saja juga salah karena fiber juga bisa di tambalm dan cara penambalan tidak serumit dalam penambalan kapal kayu yang bocor. Penambalan cukul menyediakan met, resin dan katalis untuk bahan baku nya saja.
Sekali lagi perlu banyak sosialisasi kepada nelayan agar kemanfaatan kapal bantuan bisa benar benar mensejahterakan nelahan tidak.

Friday, June 10, 2016

Selalu ada cerita di balik banjir rob

Banjir rob atau air laut pasang adalah suatu hal yang biasa di kota semarang. Untuk wilayah pelabuhan tanjung mas banjir rob sudah menjadi langganan setiap harinya. Tetapi pada akhir akhir ini banjir rob sudah sangat tinggi dan mengakibatkan hampir mengganggu aktifitas di pelabuhan tanjung mas.
BBPI Semarang yang lokasinya di pelabuhan tanjung mas dan tepatnya di jalan yos sudarso kalibaru barat harus terkena juga imbas dari banjir rob. Ada cerita yang menarik di banjir rob kali ini.
Setiap datang dan pulang kerja sebagian pegawai dari BBPI Semarang harus diantar jemput dengan menggunakan kendaraam tossa. Kendaraan dengan roda tiga inilah yang dijadikan kendaraan melintasi genangan air rob. Ketinggian air rob bila memasuki pasang tertinggi bisa mencapai ketinggian 60 cm. Menurut berbagai sumber tanah di sekitar pelabuhan setiap tahunnya mengalami penurunan hampir 5 cm pertahun. Padahal jalan didepan kantor sudah terlalu sering di tinggikan. Harus ada langkah pasti agar banjir rob ini tidak menjadi masalah terus menerus.

Thursday, June 2, 2016

Inovasi BBPI Semarang di temu teknis litkayasa

Litkayasa adalah bagian yang penting di Balai besar penangkapan ikan. Untuk terus mengembangkan kemampuan litkayasa maka BALITBANG KKP mengadakan temu teknis litkayasa setingkat dirjen. Kegiataan ini di tambahkan dengan lomba pemakalah dan poster kegiataan perekayasaan yang terbaik. Pemenang akan mendapatkan penghargaan langsung dari ibu menteri susi pudjiastuti.

Wednesday, June 1, 2016

Inovasi alat tangkap nelayan Batang

( Semarang, 31/05/2016 ) Pada tanggal 31 Mei 2016 BBPI Semarang kedatangan rombongan dari Kabupaten Batang. Rombongan tersebut berjumlah 4 Orang terdiri dari 2 orang nelayan dan 2 orang pegawai dari dinas kelautan dan perikanan Batang. Mereka di sambut baik oleh teman – teman di BBPI Semarang. Maksud dari kedatangan mereka adalah untuk memperkenalkan inovasi dari nelayan batang dan sebagai pengantar adalah dinas kelautan dan perikanan batang.

Pak Asiz nama salah satu nelayan yang ikut dalam rombongan. Beliau memperkenalkan alat tangkap yang beliau namakan dengan jarring Apollo. Jaring Apollo disini bukan jarring yang di tarik yang sekarang di larang tetapi jarring yang beliau perkenalkan adalah jarring yang menyerupai payung terbalik. DImana latar belakang penemuan inovasi beliau karena melihat banyaknya nelayan nelayan pantura yang masih menganggur karena terkendala ijin untuk menangkap ikan. Dengan adanya pelarangan cantrang maka pak asiz teringat di saat zaman pada tahun 1990 dimana beliau mempunyai 2 buah kapal dan bisa menghasilkan banyak ikan.

Suasana diskusi berlangsung seru di ruangan demersal. Di situ para pejabat structural dan fungsional perekayasa serta litkayasa dengan seksama memperhatikan pemaparan dari nelayan batang. Menurut pak sahasta selaku perekayasa di BBPI Semarang mengatakan bahwa inovasi alat tangkap yang di paparkan oleh pak asis termasuk dalam kategori alat tangkap bila disaat setting seperti jala jatuh dan apabila  di saat hauling seperti jarring angkat. Dan menurut beliau juga inovasi tersebut lebih baik untuk di kombinasikan dengan bagan. Karena di lihat dari bentuk dan adanya penambahan lampu sebagai alat bantu memungkinkan alat tersebut bisa di uji dengan bagan. Beliau juga mengingatkan agar dalam melakukan uji coba harus memperhatikan aturan – aturan yang telah diberlakukan.

Pak usman effendi selaku pejabat structural juga menambahkan bahwa  alat tangkap tersebut harus di uji coba bukan oleh BBPI. Karena BBPI mempunyai tupoksi tidak dalam rangka penelitian tapi lebih mengedepankan kepada pengembangan inovasi yang bisa langsung di aflikasikan oleh nelayan. Beliau menyarankan agar pak asiz dan pemerintah daerah batang menawarkan inovasi tersebut kepada Balibang pusat maupun balitbang daerah. Dan apabila meminta dukungan dari BBPI Semarang hanya sekedar pendampingan.

BBPI sangat mengapresiasi atas apa yang dilakukan oleh pak asis. Apalagi dari pernyataan beliau yang peduli dengan sumber daya ikan di laut jawa. Pak asiz mengkritisi aktifitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dimana ikan ikan kecil banyak yang tertangkap. Menurut beliau juga apabila menunggu ikan tersebut lebih besar lagi dengan sendiri harga ikan tersebut lebih tinggi. Semangat terus buat pak asiz semoga inovasi benar- benar terwujud dan bisa di manfaatkan nelayan. Sebelum acara selesai rombongan dari batang ini menyerahkan proposal alat tangkap tersebut dan sebuah reflika kapal sebagai cinderamata buat BBPI Semarang.

Monday, May 30, 2016

Syarat teknis SET- NET

Set net adalah salah satu alat yang populer di jepang. Alat ini dinilai bisa menghasilkan tangkapan ikan yang melimpah. BBPI semarang sudah pernah melakukan uji coba pemasangan set net di daerah jeneponta, Sulawesi selatan.
Persyaratan yang harus dimiliki oleh perairan sebagai lokasi penempatan set-net yang dianggap layak, antara lain memiliki:
1. Kecepatan arus kurang dari 2 knot.
2. Tinggi gelombang tidak lebih dari 1 m.
3. Amplitudo pasang surut tidak lebih 2m.
4. Jarak antar garis kontur cenderung berdekatan (isodept menyempit) dengan kemiringan dasar tidak lebih dari 25° (landai).
5. Permukaan dasar merata, tidak bergunung, meluas dan tidak curam.
6. Substrat dasar perairan berupa lumpur-berpasir bebas dari dasar berbatu.
7. Kedalaman perairan tidak lebih dari 20 m.
8. Tidak mengganggu lingkungan dan ekosistem serta kegiatan lain di sekitarnya.
9. Perairan yang bukan jalur pelayaran.
10. Sumber daya ikan melimpah dan memiliki nilai ekonomi tinggi dengan pola migrasi ikan yang jarak tempuhnya dari pantai masih ekonomis.
11. Sosial masyarakat yang merespon positif dengan adanya set-net.
12. Sumber daya manusia yang berpendidikan dan terampil serta mau berorganisasi.
13. Sarana dan prasarana dengan aksesbilitas tinggi.
14. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung secara penuh dan bertanggung jawab atas pengelolaan set-net dengan tetap menjaga kearifan lokal. ( sumber hudring bbpi semarang )

Monday, April 4, 2016

Peningkatan Kinerja ABK BBPI Semarang



( JEPARA, 21/03/2016) Di tri wulan pertama di tahun ini, BBPI Semarang melalui Bidang  Dukungan dan Kerjasama Teknik mengadakan kegiatan tahunan yaitu kegiatan operasi penangkapan untuk menambah kemampuan    dan kecakapan ABK kapal dan tenaga teknis bbpi dengan KM.Blue fin 02 di perairan Jepara. Pada kegiatan kali ini ada perbedaan dari tahun- tahun sebelumnya, karena didalam kegiatan tersebut melibatkan salah satu dari nelayan lokal.
Dalam rapat koordinasi tim kegiatan, Kepala Seksi dukungan Teknik Agus Suryadi S.ST.PI berharap kepada seluruh ABK dan tenaga teknis sebagai salah satu Sumber Daya Manusia yang di miliki Oleh BBPI,Semarang dapat berperan aktif dalam menyerap ilmu yang diperoleh dari pengalaman nelayan yang ikut dalam kegiatan ini.
Semua ABK dan Tenaga teknis BBPI harus bersungguh- sungguh dalam menyerap pengalaman nelayan yang sudah terbiasa dilaut dan nelayan pun harus bisa mengambil ilmu yang belum mereka dapatkan dari seluruh ABK dan tenaga teknis BBPI. Intinyasaling tukar pengalan dan bekerjasamalah..,Ucap Agus Suryadi S.ST.PI dalam sela- sela rapat koordinasi Tim kegiatan.

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 12 s.d 18Maret 2016 ini diikuti oleh 8 Orang dari BBPI,Semarang dan 1 orang nelayan dari Jepara. Menurut Purwanto selaku Ketua Tim Kegiatan mengatakan” Kemampuan seorang teknisi tidak hanya diukur dari kemampuan teoritis tetapi harus bisa di praktekkan kelapangan. Harapan Besar ada di tangan para generasi penerus yang masih muda karena sebentar lagi banyak Pegawai BBPI,Semarang akan memasuki masa purna tugas. Dan regenerasi sangatlah di perlukan”.